Kisah nyata- petikan dari majalah NUR- cahaya keinsafan. Untuk renungan bersama... insyaAllah...
Peristiwa yang menimpa diri saya kira-kira dua tahun yang lalu sering datang meragut ketenangan yang coba di pupuk hari demi hari. Saya selalu kecewa...Justeru saya masih belum dapat memaafkan kesalahan yang telah dilakukan. Kesalahan yang disangka ringan, tetapi rupa-rupanya mendatangkan rasa bersalah yang tidak pernah berkesudahan hingga ke hari ini.
Ingin saya paparkan peristiwa yang menimpa diri ini untuk tatapan anda sekalian, untuk dijadikan teladan sepanjang hidup. Untuk pengetahuan semua...
di kalangan sahabat-sahabat dan saudara, saya dianggap sebagai seorang isteri yang baik. Tetapi keterlaluan jika dikatakan saya menjadi contoh teladan seorang isteri bekerja yang begitu taat berbakti kepada suami.
Walau bagaimana penat dan sibuk sekalipun, urusan rumahtangga seperti melayan suami dan menguruskan anak-anak tidak pernah saya abaikan.Kami dianggap pasangan romantis. Suami saya seorang lelaki yang amat memahami jiwa saya, berlemah lembut terhadap keluarga, ringan tangan untuk bersama-sama menguruskan rumah apabila pulang dari kerja dan lain-lain. sifat yang baik ada pada dirinya.
Waktu sembahyang dan waktu makan merupakan waktu terbaik untuk mengeratkan ikatan kekeluargaan dengan sembahyang berjemaah dan makan bersama. Pada waktu inilah biasanya beliau akan memberi tazkiyah dan peringatan kepada kami agar menjadi hamba yang bertakwa.
Dari sudut layanan seorang isteri terhadap suami, saya amat memahami akan kewajiban yang harus ditunaikan.
Itulah peranan asas seorang isteri terhadap suaminya. Allah menciptakan Hawa semata-mata untuk melayan Adam dan menghiburkannya. Meskipun syurga dipenuhi dengan kekayaan dan kemewahan, namun tidak mampu mengisi jiwa Adam yang kosong melainkan dengan diciptakan Hawa.
Oleh itu saya menganggap tugas mengurus rumahtangga, mengurus anak-anak dan bekerja di kantor adalah tugas nombor dua setelah tugas pertama dan utama, iaitu melayani suami.Sebagai seorang yang juga sibuk dikantor, adakalanya rasa penat dan letih menghambat sampai saya pulang ke rumah.
Tetapi saya bersyukur karena suami amat memahaminya.Berkat tolong-menolong dan bertolak-ansur,hal tersebut tidak pernah menjadi masalah di dalam rumahtangga. Bahkan sebaliknya menumbuhkan rasa kasih dan sayang antara satu sama lain kerana masing-masing dapat menerimanya dan mengorbankan kepentingan masing-masing.
Sehinggalah tiba pada satu hari yang mana pada hari itu datangnya ketentuan Allah yang tidak dapat diubah oleh sesiapa pun. Hari itu merupakan hari bekerja. Agenda saya di kantor amat sibuk, bertemu dengan beberapa orang pelanggan dan menyelesaikan beberapa tugasan yang perlu disiapkan pada hari itu juga.
Pukul lima petang saya bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Penat dan letih tidak dapat digambarkan.
Apabila sampai di rumah, saya lihat suami telah pulang dari kantor.Dia telah membersihkan dirinya dan sedang melayani anak-anak,bermain-main dan bergurau senda. Dia kelihatan sungguh gembira pada pada petang itu.
Saya begitu terhibur melihat telatah mereka, karena suasana seperti itu jarang berlaku pada hari kerja. Maklumlah masing-masing penat. Suami sadar saya amat penat pada hari itu. Oleh itu dia meminta agar saya tidak memasak,sebaliknya mencadangkan agar kami makan di sebuah restoran makanan laut dipinggir kota.
Dengan senang saya dan anak-anak menyetujuinya. Kami pulang ke rumah agak lewat, kira-kira jam 11 malam.
Karena ,kami berbual-bual panjang ketika makan, bergurau-senda dan usik-mengusik.Seperti tiada hari lagi untuk esok. Selain anak-anak,suami sayalah orang yang kelihatan paling gembira dan paling banyak modal untuk berbicara pada malam itu. Hampir jam 12 barulah masing-masing merebahkan badan di tempat tidur.
Anak-anak yang kekenyangan segera mengantuk dan terlelap. Saya pun hendak melelapkan mata, tetapi belaian lembut suami mengingatkan saya agar tidak tidur lagi. Saya coba menggagahkan diri melayaninya, tetapi hati saya hanya separuh saja terjaga, separuh lagi tidur. Akhirnya saya berkata kepadanya sebaik dan selembut mungkin, "Paa..saya terlalu penat," lalu saya menciumnya dan memberi salam sebagai ucapan terakhir sebelum tidur.Sebaliknya suami saya terus merangkul tubuh saya. Dia berbisik kepada saya bahwa itu adalah permintaan terakhirnya. Namun kata-katanya itu tidak meresap ke dalam hati saya kerana saya telah berada di alam mimpi.Suami saya perlahan-lahan melepaskan rangkulannya.
Keesokan harinya di kantor, perasaan saya agak tidak menentu. Seperti ada perkara yang tidak selesai. Saya menelefon suami, tetapi tidak berjawab.Sehinggalah saya dapat panggilan yang tidak disangka sama sekali - panggilan dari pihak polisi yang menyatakan suami saya terlibat dalam kemalangan dan dikehendaki datang segera ke hospital.
Saya bergegas ke hospital,tetapi segala-galanya sudah terlambat.
Allah lebih menyayangi suami saya dan saya tidak sempat bertemunya. Meskipun redha dengan pemergian suami,tetapi perasaan terkilan dan bersalah tidak dapat dikikis dari hati saya kerana tidak melayaninya pada malam terakhir kehidupannya didunia ini.Hakikatnya itulah pahala terakhir untuk saya sebagai seorang isteri. Dan yang lebih saya takuti sekiranya dia tidak redha terhadap saya pada malam itu,maka saya tidak berpeluang lagi untuk meminta maaf daripadanya.
Sabda Rasulullah s.a.w, "Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya,tiada seorang suami yang mengajak isterinya tidur bersama di tempat tidur,tiba-tiba di tolak oleh isterinya, maka malaikat yang di langit akan murka kepada isterinya itu, hingga dimaafkan oleh suaminya."
Sehingga kini,setiap kali saya terkenang kepadanya, air mata saya akan mengalir ke pipi.Saya akan bermunajat dan mohon keampunan daripada Allah.
Hanya satu cara saya fikirkan untuk menebus kesalahan itu, iaitu dengan mendidik anak-anak agar menjadi mukmin sejati. Agar pahala amalan mereka akan mengalir kepada ayah mereka. Hanya itulah khidmat yang dapat saya berikan sebagai isterinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar